Header Ads

Penjual Celana Kolor Kini Desainer

Bella (kanan) saat bersama teman seprofesi
Seputarjateng.com – Tak pernah terlintas dalam benak Bella Quarta jika dirinya mampu meraih sukses seperti sekarang. Berkarya di bidang desain dia senangi serta mendapat pengakuan baik dari sesama desainer maupun masyarakat semakin membuatnya takjub.

“Saya tidak pernah bermimpi menjadi seorang desainer. Tak pernah terlintas sama sekali. Semua berjalan begitu saja. Bahkan sampai sekarang saya juga masih belum percaya mampu berhasil,” kata Bell ditemui di rumahnya.Lika – liku perjalanan yang dia alami selama ini seolah menjadi penuntun bagi wanita ramah ini untuk menemukan benang merah menuju pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Usaha kuliner di Kota Solo menjadi rintisan awal dirinya di dunia bisnis. “Awalnya ramai banyak pembeli yang datang namun lama kelamaan semakin berkurang dan akhirnya terpaksa harus bangkrut,” kata wanita cantik ini. Kerugian yang dialaminya ini ternyata cukup besar,mulai dari mobil, tabungan dan beberapa perhiasan sampai harus dijual demi untuk menutupi hutangnya. 

“Saya pernah sampai 3 hari berada di jalanan sampai menemukan rumah kontrakan kecil,” katanya.

Dan ketika mendapatkan rumah kontrakan, itupun bukan sesuai keinginan. Tak memiliki apapun baik pekerjaan dan uang yang semakin menipis,membuat wanita cantik mencoba untuk memutar otak. Jalan satu – satunya yang dia miliki adalah dengan mencoba peruntungannya menjahit. Bersama dengan sang suami, Bella mulai membuat celana kolor sebagai produk pertamanya. 

“Pertama kali saya coba – coba buat celana kolor, dan menjualnya di pasar klewer. Dan sedikit demi sedikit mulai ada orang yang melirik. Apalagi jahitan yang saya buat cukup rapi sehingga di sukai,” tuturnya.

Usaha yang dia jalani dari hari ke hari dan bulan ke bulan itu mulai menunjukkan hasil. Dan mulailah dirinya mencoba untuk membuat gaun, kebaya hingga pada akhirnya memberanikan diri untuk membuat kostum. “ Saya sama sekali tidak memiliki basic untuk menjahit dan bahkan membuat kostum. Bahkan pertama kali saya menjahit itu diajari suami saya,” paparnya.

Bella bahkan ingat kostum pertama yang dia buat. “ Pertama kali saya buat kostum dari seri akatsuki dan itupun untuk tambahan bajunya masih dilem bukan dijahit. tapi ternyata mereka suka dan berkembanglah bisnis kostum saya sampai berkembang dimana – mana,” katanya.

Puncaknya, ia sampai memiliki 16 karyawan dengan omzet mencapai Rp 50 juta perbulan. Tapi entah kenapa itu tidak pernah memuaskan hatinya. Dan segalanya berubah satu persatu pekerjanya keluar dari usahanya itu dan hanya menyisakan dua orang. Sepinya pembeli dan juga lemahhnya pemasaran kala itu membuat omzetnya otomatis menurun drastis.

Tak ingin terpuruk, Bella memutuskan membuka lowongan pekerjaan di sebuah media massa di Solo untuk menambah pekerja. Keesokan harinya, saat waktu masih menunjukkkan pukul 07.00 WIB ada seorang difabel dari Boyolali yang ingin bekerja di usahanya. Difabel perempuan itu tuna rungu dan tuna wicara. Saat itu, difabel tersebut bercerita mengapa mencari pekerjaan hingga ke Solo.

”Dia bercerita dengan menggunakan kertas, bagaimana dirinya dikucilkan dari pekerjaannya terdahulu ternyata mengubah pemikiran saya. Segera saya pekerjaan dia di My jella.” kata wanita yang tinggal di di Perumahan Rakyat Kabangan Nomor 10 RT 001/RW 005, Sondakan, Laweyan.

Tapi itu hanya berlangsung 4 hari saja. Dan pekerja itupun memutuskan untuk mengundurkan diri karena dilarang orang tuanya untuk bekerja dengan alasan rumahnya yang terlalu jauh. Pertemuannya itu entah kenapa membuat Bella berfikir untuk mencoba mempekerjaan orang – orang difabel.

“Dan akhirnya saya pun berfikir bagaimana tidak mempekerjakan difabel. Segera saya ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat [YPAC] untuk mencari pekerja yang mau bekerja di tempat saya, namun saya diarahkan ke Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa [BBRSBD] Prof Dr Soeharso Solo. dan disitulah ia menemukan pekerja saya’,” kata wanita berkulit putih itu.

Memang cukup sulit awalnya untuk mengajari mereka cara membuat kostum. Butuh 3 -4 bulan sampai mereka benar – benar bisa bekerja dengan baik. Mereka juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal, makan 3 kali sehari dan kebutuhan lainnya. 

“Memang benar kebutuhan mereka cukup besar apalagi dengan usaha saya yang tidak seramai dulu namun entah kenapa hal itu justru menyenangkan bagi saya. Bisa berdiskusi bersama, berbincang – bincang, dan menceritakan banyak hal dengan mereka memberikan kepuasan batin bagi saya,”jelasnya.

Sayang tidak semua orang menyukai cara berfikirnya. Bella bahkan dianggap hanya melakukan pencitraan dan dimusuhi oleh teman – temannya. Namun hal ini tak menghentikan niatnya untuk menolong banyak orang.

Bella mengatakan Kepuasan itu memang tidak bisa diukur dengan materi dan itu benar – benar ia rasakan sekarang. Keinginannya saat ini ingin lebih banyak lagi mempekerjakan lebih banyak orang difabel dan menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka bisa berkarya dan bahkan lebih baik dibandingkan mereka yang normal.

Disegani pecinta kostum
Dan kini, siapa yang tidak mengenal My Jella milik Bella Quarta. Keahlian tangannya dalam mengolah dan mengkreasikan pakaian membuatnya kini semakin laris manis di Pasaran.

Bahkan dunia bisnis online nama My Jella sudah terkenal sampai Singapura. Apalagi di mata para pecinta kostum Jepang atau biasa disebut kosplayer, kemampuan wanita yang satu ini sudah tidak diragukan lagi. Hampir semua pakaian dari berbagai tokoh baik dalam superhero maupun anime mampu dibuatnya dengan baik.

Semua orang mengakui kemampuan wanita berperawakan putih ini memang dikenal rapi dan juga pintar dalam memilih bahan. Dan meski dipatok dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan penjahit kostum lainnya, tak ada yang mengeluh sebab mereka yakin jika hasil karya yang dibuat Jella tidak akan membuat kecewa.

Mulai coba jajaki dunia gaun, batik, dan tenun
Sukses dan semakin dikenal karena kemampuannya membuat kostum tidak membuat Bella buta sanjungan. Hal itu justru menjadi pemicunya untuk lebih berinovasi. Dan atas desakan dari teman seprofesinya, mulailah penyuka hewan ini memberanikan diri untuk melangkahkan dirinya menjajaki dunia gaun, batik dan tenun.

“Saya melihat bahwa sebagian besar desainer ternama juga memproduksi batik maupun tenun ready to wear. maka dari itu saya mulai berani memperoduksi sesuai dengan desain dari saya,” ujar Bella.

Dan untuk jenis gaun, Desain Bella lebih fokus pada jenis glamour elegan. “ Gaun itu berbeda dengan kostum. Polanya lebih susah sebab harus menggambarkan keindahan, pas dibahan dan jatuhnya gaun bagus sedangkan kostum tidak harus nyaman di tubuh asalkan sesuai dengan desain yang diinginkan,” tukas Bella.

Kedepan Bella akan terus memfokuskan diri pada bidang gaun, batik dan tenun. Meski demikian dirinya tetap menerima pesanan untuk pembuatan kostum. “ Tapi tidak akan sefokus dulu. Jadi bagi mereka yang ingin dibuatkan kostum tapi terlalu rumit lebih baik saya lepaskan dan fokus untuk membuat batik,” imbuhnya. – amb

Data diri:
Bella Quarta
Owner My Jella
10 Januari 1981

Keluarga:
Suami : Tisnu Harimukti

Lain-lain:
Hobi :pelihara hewan
Makanan Kesukaan : tumpang

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.